Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik
JDIH IAIN Parepare - Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik
Oleh: Dr. Nahrul Hayat, M.I.Kom. (Dosen Ilmu Komunikasi IAIN Parepare)
29 Agustus, 2026
oleh
Humas IAIN Parepare
Ada satu hukum tak
tertulis dalam politik digital hari ini yaitu kecepatan mengalahkan kebenaran,
dan kegaduhan mengalahkan substansi. Sebuah pernyataan pejabat, potongan pidato
belasan detik, atau satu kalimat yang dianggap keliru, dapat berubah menjadi
perdebatan nasional hanya dalam hitungan jam, bahkan sebelum kementerian
terkait sempat menyusun siaran pers. Kebijakan bergerak dengan ritme birokrasi
yang lamban dan berhati-hati, sementara persepsi publik melesat dengan
kecepatan algoritma yang tidak pernah berhati-hati. Pertanyaannya bukan lagi
apakah pesan itu akan viral, sebab hampir segalanya kini berpotensi viral, melainkan
apa yang tersisa setelah kegaduhan itu reda? Boleh jadi kepercayaan publik
semakin menguat atau sebaliknya kepercayaan yang kian tergerus.
Ketika Jalanan dan
Linimasa Bicara Bersamaan
Bulan Agustus ini
menyediakan laboratorium hidup potret komunikasi politik terkini. Sejak awal
Agustus 2026, gelombang unjuk rasa dengan beragam tuntutan menyebar di berbagai
daerah, hingga memuncak pada aksi besar BEM UI dan sejumlah elemen mahasiswa pada
18 Agustus yang mengusung delapan tuntutan sekaligus. Di tengah situasi itu,
pola komunikasi politik Presiden Prabowo justru kembali dikritik oleh beberapa akademisi
yang dianggap kerap blunder, komunikasi yang dinilai reaktif, minim empati, dan
berpotensi merugikan legitimasi pemerintah sendiri alih-alih meredakannya.
Catatan Laboratorium Indonesia 2045 (Lab 45) bahkan mengonfirmasi kesan itu
dengan angka bahwa terdapat 151 peristiwa yang dikategorikan sebagai
blunder–gaduh dalam komunikasi pemerintahan selama tahun pertama pemerintahan
Prabowo-Gibran. Rata-rata terjadi dua hari sekali, dengan porsi terbesar
berkaitan langsung dengan komunikasi kebijakan. Ini bukan lagi persoalan gaya
bicara personal, melainkan indikasi problem struktural dalam tata kelola
komunikasi pemerintahan itu sendiri.
Guru Besar Ilmu
Komunikasi UII, Masduki, merinci pola itu ke dalam empat karakter bermasalah:
denial atau penyangkalan kesalahan, retorika defensif, minimnya ruang dialog,
dan sikap anti-kritik. Ia menunjuk kasus konkret seperti keengganan meminta
maaf dalam polemik “Londo Ireng” maupun kekeliruan data upah pengupas bawang
yang sempat viral, sebagai contoh bagaimana denial menjadi refleks komunikasi
pertama alih-alih klarifikasi. Ungkapan spontan seperti “Ndasmu” atau “Emangnya
Gue Pikirin” yang sempat dilontarkan pun, betapapun dimaksudkan sebagai gestur
ketegasan, justru terbaca publik sebagai sikap defensif yang jauh dari kesan
mendengar. Kritik ini bukan sekadar sentimen elite kampus. Hal ini adalah
sinyal bahwa negara sedang kalah bicara di ruang yang justru paling menentukan
opini publik hari ini.
Yang lebih
mengkhawatirkan, krisis komunikasi Agustus ini tidak berhenti pada gaya bicara.
Ia merembes ke persoalan yang jauh lebih berbahaya yaitu krisis misinformasi.
Kementerian Komunikasi dan Digital mendapati penyebaran video-video lama
demonstrasi yang diunggah ulang secara serentak dan disengaja, dilepas tanpa
keterangan waktu maupun konteks, sehingga tampil seolah-olah sebagai peristiwa
yang sedang terjadi hari itu juga. Fenomena ini kemudian dibalut narasi
lanjutan bahwa negara tengah menyensor informasi asli, karena video “terbaru”
itu tak kunjung tampil di media arus utama. Di sinilah kita berhadapan dengan
sesuatu yang lebih ekstrem daripada framing atau hoaks konvensional, yakni apa
yang oleh Jean Baudrillard (1994) disebut sebagai simulacra yakni sebuah
realitas tiruan yang berdiri sendiri, terlepas dari peristiwa aslinya, namun
dipercaya publik justru karena bentuknya yang paling meyakinkan secara visual.
Ketika rekaman lama bisa dibangkitkan kembali sebagai “kejadian baru”, maka
yang dipertaruhkan bukan lagi kebenaran sebuah narasi, melainkan kemungkinan
verifikasi itu sendiri.
Paradoks Politik Digital:
Saluran Bertambah, Kendali Makna Menghilang
Di titik inilah paradoks
politik digital berlangsung paling telanjang. Negara memiliki lebih banyak
kanal untuk bicara ketimbang generasi pemimpin mana pun sebelumnya, tetapi
justru pada saat yang sama paling kehilangan kendali atas bagaimana kata-katanya
dimaknai. Dalam kerangka Mediatisasi politik (Strömbäck & Esser, 2014),
politik modern tidak lagi berjalan di luar logika media, melainkan tunduk pada
logikanya sebagaimana frase klasik Marshall McLuhan (1964), “
the medim is
the message”
. Begitu sebuah pesan politik dilepas ke ruang digital, ia
berhenti menjadi milik negara. Ia dipotong, dibingkai ulang, diberi caption
sinis, diparodikan, disebarluaskan lintas platform, hingga akhirnya lahir
kembali dengan makna yang sama sekali berbeda dari niat awalnya. Algoritma
bekerja sebagai mekanisme kurasi yang mengoptimalkan visibilitas berdasarkan
pola keterlibatan pengguna, sehingga konten yang memicu perhatian dan respons
emosional memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh resonansi.
Viralitas sebagai Ekonomi
Emosi
Pada level ini, viralitas
berhenti menjadi sekadar fenomena teknis dan berubah menjadi ekonomi emosi yang
punya konsekuensi politik serius. Merujuk pada Framing Theory (Entman, 1993),
fakta yang identik dapat tampil sangat berbeda tergantung bingkai yang
membungkusnya, dan bingkai kemarahan nyaris selalu mengalahkan bingkai
penjelasan. Zizi Papacharissi (2015) menamai kondisi ini
affective publics
sebuah tatanan ketika opini publik bergerak bukan terutama lewat argumentasi
rasional yang panjang, melainkan lewat resonansi emosi kolektif yang diperkuat
secara algoritmik dan dikonsumsi dalam hitungan detik. Bukti empirik atas
hubungan ini tampak jelas pada tren survei kepuasan public. Indopol Survey
mencatat tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo hanya berada di angka 59,75
persen pada Juni 2026, anjlok lebih dari 20 poin dibanding hasil Litbang Kompas
pada Januari 2025 yang masih mencatat 80,9 persen.
Penurunan tersebut
setidaknya menunjukkan bahwa persoalan komunikasi perlu diperhitungkan sebagai
salah satu faktor dalam membaca perubahan persepsi publik terhadap pemerintah. Pemerintah, melalui Wakil Menteri Komunikasi
dan Digital Nezar Patria, bahkan mengakui secara terbuka pada Juli 2026 bahwa
algoritma,
filter bubble, echo chamber
, dan komunikasi berbasis sentimen
ikut membentuk cara publik memaknai kebijakan. Pengakuan ini jarang terjadi
dari dalam kekuasaan, dan justru di situlah nilainya bahwa krisis kepercayaan
publik tidak selalu lahir dari kebijakan yang buruk, tetapi kerap lahir dari
komunikasi yang dianggap tidak jujur, tidak dialogis, dan gagal menjawab
pengalaman konkret warga di jalanan maupun di linimasa.
Dari
Message Delivery
menuju
Public Engagement
Politik viral tidak
sepenuhnya dapat dijelaskan sebagai persoalan kegagalan pemerintah menyampaikan
pesan. Perubahan yang lebih mendasar terjadi pada platformisasi politik, ketika
produksi, distribusi, dan penerimaan pesan politik semakin bergantung pada
logika platform digital. Algoritma menentukan visibilitas, sementara format
video pendek, potongan informasi, komentar, dan konten emosional membuat pesan
yang paling mudah menarik perhatian sering kali lebih beresonansi daripada
pesan yang paling substantif. Karena itu, satu kebijakan dapat mengalami
fragmentasi makna ketika berpindah dari kanal resmi pemerintah ke TikTok,
Instagram, X, atau WhatsApp. Dalam ekosistem seperti ini, viralitas tidak
selalu identik dengan representasi persoalan yang utuh, sementara krisis
kepercayaan dapat diperkuat oleh pengulangan informasi,
filter bubbles
echo chambers
Namun, menjadikan
algoritma sebagai kambing hitam juga tidak tepat. Pemerintah tetap memiliki
tanggung jawab komunikasi yang besar, terutama dalam menyediakan informasi yang
akurat, transparan, konsisten, mudah dipahami, serta membuka ruang klarifikasi
dan dialog. Data tentang kepuasan publik dan berbagai peristiwa komunikasi
politik menunjukkan bahwa persoalan kepercayaan tidak dapat dibaca melalui satu
indikator atau satu penyebab saja. Karena itu, problem komunikasi politik
pemerintah hari ini bukan sekadar bagaimana mengirim pesan, melainkan bagaimana
membangun
public engagement
di tengah ekosistem platform yang
terfragmentasi.
Karena itu, pemerintah
tidak boleh puas hanya menjadi produsen pesan yang terkesan rajin bicara namun malas mendengar.
Jürgen Habermas (1989), lewat gagasan ruang publik demokratis, mengingatkan
bahwa legitimasi kekuasaan lahir dari kemungkinan pertukaran argumen yang
terbuka antara negara dan warganya, bukan dari monolog satu arah yang dikemas
serapi apa pun. Komunikasi politik di era digital harus bergerak menuju komunikasi
deliberatif seperti mendengar sebelum membantah, menjelaskan sebelum
menyalahkan, mengakui kekeliruan sebelum dipaksa oleh tekanan publik, dan
membuka ruang dialog yang setara alih-alih sekadar simetris di atas kertas.
Sebab dalam politik viral, satu pesan barangkali sanggup memenangkan perhatian
dalam hitungan detik, tetapi kepercayaan publik hanya tumbuh dari konsistensi,
kejujuran, dan pengalaman komunikasi yang jauh lebih panjang napasnya daripada
umur sebuah tren.
Pada akhirnya, mediatisasi
politik inilah yang akan menjadi ukuran
baru bagi komunikasi politik pemerintah di era media digital ini. Bukan
seberapa cepat sebuah pesan menjadi viral, melainkan seberapa kuat kepercayaan
yang masih berdiri setelah viralitas itu padam dan rekaman lama berhenti
dibangkitkan sebagai kejadian baru. Sebab viral hanya soal hari ini, algoritma
hanya soal detik ini, tetapi kepercayaan publik adalah taruhan jangka panjang
yang tidak bisa dibeli dengan kecepatan, dan tidak bisa dipulihkan hanya dengan
siaran pers.
di dalam
Opini
Humas IAIN Parepare
29 Agustus 2026